Posts Tagged ‘Perikanan

20
Mar
11

Peluang Agribisnis Perikanan

Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai, rawa, danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha merupakan potensi alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha perikanan di Indonesia. Disamping itu banyak potensi pendukung lainnya yang dilaksanakan oleh pemerintah dan swasta dalam hal permodalan, program penelitian dalam hal pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan pasca panen, penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan import. Walaupun permintaan di tingkal pasaran lokal akan ikan patin dan ikan air tawar lainnya selalu mengalami pasang surut, namun dilihat dari jumlah hasil penjualan secara rata-rata selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Apabila pasaran lokal ikan patin mengalami kelesuan, maka akan sangat berpengaruh terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat grosir di pasar ikan. Selain itu penjualan benih ikan patin boleh dikatakan hampir tak ada masalah, prospeknya cukup baik. Selain adanya potensi pendukung dan faktor permintaan komoditi perikanan untuk pasaran lokal, maka sektor perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang cerah.

Iklan
16
Mar
11

Budidaya Ikan Baung

Pemeliharaan Induk

Pemeliharaan induk dilakukan di kolam induk yang berukuran 600 m2 dengan kedalaman air rata-rata 1 m dengan padat tebar 15 ekor /m2. Selama pemeliharaan induk diberikan pakan berprotein minimal 28% sebanyak 2% dari total Biomass/hari dengan frekuensi pemberian pakan dua kali sehari yaitu pada pagi hari dan sore hari.

Seleksi Induk

Pengecekan tingkat kematangan gonad induk betina yang siap pijah dapat dicirikan perut yang membesar dan lembek bentuk badan yang agak melebar dan pendek. Pada sekitar lubang genital agak kemerahan dan telur berwarna kecoklatan. Ukuran diameter telur ikan baung yang siap dipijahkan dan mampu berkembang dengan baik berkisar 1,5 sampai 1,8 mm dengan rata-rata 1,6 mm. Telur yang bagus dapat dilihat intinya sudah menepi dan tidak terjadi penggumpalan jika diberi larutan sera.

Sedangkan untuk induk jantan yang siap dicirikan dengan ujung genital papilla (penis) berwarna merah yang panjangnya sampai ke pangkal sirip anal. Cairan sperma ikan baung ini berwarna bening.

Pemijahan dilakukan secara buatan dengan penyuntikan hormon. Jenis hormon yang digunakan adalah ovaprim denga dosis 0,5 cc/kg induk betina dan 0,3 cc/kg untuk induk jantan.

Induk ditampung dalam wadah fiber/waskom/aquarium yang berfungsi sebagai tempat inkubasi induk. Induk ditimbang beratnya untuk menentukan jumlah hormon yang akan digunakan. Penyuntikan induk betina dilakukan 2 kali dengan interval waktu penyuntikan 6 jam, untuk penyuntikan I digunakan 1/3 dari dosis dan 2/3 sisanya untuk penyuntikan ke II. Sedangkan untuk induk jantan dilakukan sekali penyuntikan yaitu waktu penyuntikan kedua pada induk betina. Penyuntikan dilaksanakan secara intra muskular di bagian kiri/kanan belakang sirip punggung. Posisi jarum suntik terhadap tubuh induk membentuk sudut 30o – 40o sejajar dengan panjang tubuh.

Waktu ovulasi berkisar antara 6 – 8 jam setelah penyuntikan ke II (kisaran suhu 29o – 31o ditandai dengan keluarnya telur bila dilakukan pengurutan pada bagian perut.

Pembuahan

Pengambilan sperma dilakukan dengan pengurutan ke arah lubang genital dan dengan spuit yang sudah diisi dengan larutan NaCl 0,9% dengan perbandingan 4 cc NaCl dengan 1 cc sperma. Pembuahan buatan dilakukan dengan cara mencampurkan telur dengan sperma kemudian diaduk dengan bulu ayam searah jarum jam selama kurang lebih 2 – 3 menit secara perlahan sampai tercampur rata, lalu diberi air bersih. Selanjutnya telur ditetaskan di dalam aquarium.

Penetasan Telur

Penetasan dilakukan pada substrat buatan yang diletakkan menggantung di aquarium. Hal ini dikarenakan telur ikan baung memiliki daya rekat yang tinggi sehingga telur tersebut menempel kuat pada substrat. Setelah telur menetas larva akan jatuh ke dasar aquarium dan larva baung bersifat bergerombol dan lebih suka berada di dasar aquarium. Sedangkan telur yang tak menetas tetap menempel pada substrat.

Pemeliharaan Larva

Panen larva dilakukan setelah larva berumur 6 – 8 jam setelah menetas dengan cara disifon dengan selang plastik dan ditampung dalam waskom atau dengan menggunakan serok halus dan dihitung kepadatannya. Selanjutnya baru dilakukan penebaran di media pemeliharaan larva. Padat penebaran yang digunakan dalam pemeliharaan larva ikan baung ini 20 ekor/liter.

Larva yang baru menetas berukuran 0,5 cm dengan berat 0,7 mg. Selama pemeliharaan larva, pakan yang diberikan adalah nauplii Artemia sp dan cacing rambut diberikan setelah larva berumur 8 hari. Frekuensi pemberian pakan dilakukan 5 kali per hari yaitu pada pukul 07.00, 11.00, 15.00, 19.00, dan 23.00 WIB. Agar kualitas air tetap baik dilakukan penyifonan kotoran yang mengendap di dasar aquarium. Penyifonan dilakukan 1 x per hari pada pagi hari sebelum pemberian pakan.

Pendederan

Sebelum dilakukan penebaran benih, terlebih dahulu dilakukan persiapan kolam pendederan yang meliputi pengeringan kolam, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar kolam dan pembuatan caren (kemalir). Dalam kegiatan persiapan kolam juga dilakukan pemupukan, pengapuran, pengisian air dan inokulasi moina sp. dengan kepadatan 10 juta individu/500 m2

Pengolahan dasar kolam dilakukan dengan cara pembalikan tanah dasar kolam, diratakan dengan pembuatan kemalir dengan kemiringan 0,5 – 1% ke arah pintu pengeluaran. Setelah pengolahan tanah, dilakukan pemupukan dengan pupuk kandang (kotoran ayam petelur) dengan dosis 60 gr/m2. Penjemuran kolam dilakukan selama 3 hari lalu diisi air secara bertahap sampai ketinggian air 90 cm.

Inokulasi Moina sp dilakukan sehari setelah pengisian air. Kolam didiamkan selama 3 – 4 hari agar ekosistem kolam dapat mencapai keseimbangan dan Moina sp berkembang biak. Sebelum benih ditebar di kolam dilakukan pengukuran kualitas air yang meliputi suhu, oksigen dan pH.

Penebaran banih dilakukan pada hari ke-8 dari awal persiapan kolam (3 hari setelah penebaran Moina sp). Penebaran benih dilakukan pagi atau sore hari untuk menghindari stress. Benih yang ditebar berukuran rata-rata 2,4 cm dengan padat tebar 20 ekor/m2 Pemeliharaan benih dilakukan selama 4 minggu. Setelah penebaran, benih diberi makan berupa pakan komersial (pellet) yang dihancurkan dengan kadar protein 28 – 30% sebanyak 25 – 100% total biomassa/hari. Total pemberian pakan tersebut adalah sebagai berikut :

* Minggu I : 100%,
* Minggu II : 80%
* Minggu III : 70%
* Minggu IV : 30%

Frekuensi pemberian pakan 3 x sehari pagi, siang dan sore .

Pemanenan

Pemanenan dilakukan dengan menjaring ikan dalam kolam menggunakan jaring, selanjutnya ditampung dalam hapa penampungan dan diberok selama 1 hari. Sebelum dilakukan pendistribusian benih pada pembudidaya ikan, benih terlebih dulu diseleksi sesuai ukuran.

Benih dikemas dalam kantong plastik ukuran 60 x 90 cm. Kepadatan per kantong tergantung pada ukuran benih dan waktu tempuh.

* BBAT Jambi

15
Mar
11

Budiaya Ikan Jelawat

Ikan Jelawat (Leptobarbus hoeveni) adalah ikan asli Indonesia terdapat dibeberapa sungai di Sumatra dan Kalimantan. Meskipun pemeliharaan ikan jelawat sudah lama dilakukan namun pasokan benih sepenuhnya masih mengandalkan hasil penangkapan dari perairan umum yang dilakukan pada musim hujan. Melihat aspek kebutuhan benih yang masih mengandalkan alam maka penguasaan teknologi pembenihan jenis ikan ini merupakan upaya yang pelu diaktifkan.

Ikan jelawat tidak setenar ikan mas dan nila. Ini wajar, karena ikan ini tidak ditemukan di setiap daerah, atau hanya di daerah asalnya, yaitu Sumatra, terutama Jambi dan daerah sekitarnya, serta Kalimantan. Budidaya ikan jelawat perlu dikembangkan. Karena ikan yang bernama latin Leptobarbus hoevenii ini juga tetap dicari orang, terutama orang-orang yang pernah merasakan dagingnya.

Namun, ikan jelawat sangat popuker di Malaysia sebagai ikan hias. Sementara ikan yang sudah besar digunakan sebagai ikan konsumsi. Ikan ini bersifat omnivore yang cenderung herbivore. Untuk budidaya ikan jelawat, pakannya dapat berupa pelet dan sedikit sayuran seperti selada air atau bayam.

Sekilas tentang budidaya ikan jelawat:

Penyuntikan pada induk betina dilakukan dua kali, yaitu 0,3 ml/kg dan 0,6 ml/kg dengan interval waktu sekitar 7 jam. Telur yang dihasilkan cukup banyak, dapat mencapai 100.000 butir untuk setiap induk seberat 1,5 kg. Aduk merata telur dan sperma dengan menggunakan bulu ayam atau kuas halus. Agar semua telur dapat terbuahi dengan sperma, sebaiknya perbandingan jantan dan betina 3 : 2. Selanjutnya, cuci telur tersebut dengan air bersih. Telur yang sudah bersih siap untuk ditetaskan.

Penetasan telur dilakukan dalam wadah penetasan berbentuk yang corong dibuat dari kain atau bahan halus. Wadah ini diletakkan dalam bak penetasan. Air akan dialirkan dari tetas corong selama telur ditetaskan. Telur yang mengumpul sulit atau tidak akan menetas. Penggantian air dapat dilakukan dengan cara penyifonan secara hati-hati. jumlah air yang diganti cukup setengahnya saja. Pembesaran jelawat dapat dilakukan dalam kolam setelah berumur 30 hari.

Metode dan Cara Pembenihan Ikan Jelawat :

Pematangan Gonad

  • Induk dipelihara dalam kolam khusus berukuran 500-700 m2 penebaran 0,1-0,25 kg/m2
  • Selama pemeliharaan, induk ikan dibi pakan pelet dengan kandungan protein 25-28%
  • Pakan diberikan sebanyak 3 % dari berat badan dengan frekwensi 2-3 per hari
  • Selain pelet diberikan juga pakan berupa hijauan seperti daun singkong secukupnya
  • Lama pemeliharaan induk lebih kurang 8 bulan
  • Induk yang siap pijah diperoleh dengan cara seleksi

Pemijahan

Pemijahan jelawat dapat dilakukan scara alami dan buatan. Dalam paket teknologi ini dilakukan pemijahan buatan.

  • Induk terseleksi perlu diberok selama satu hari
  • Penyuntikan hormon HCG dan kelenjar hipofisa terhadap induk betina dilakukan 2 kali
  • Penyuntikan I (PI) : 1 dosis kelenjar hipofisa ditambah 200 IU HCG per induk betina
  • Penyuntikan II (PII) : 2 dosis kelenjar hipofisa ditambah 300 IU per induk betina
  • Selang waktu antara PI dan PII, 5-6 jam
  • Ovulasi terjadi antara 10-1 jam dari PI
  • Telur dan sperma dikeluarkan dengan cara diurut
  • Pembuahan telur dilakukan dengan mencampurkan sperma dan telur di baskom plastik
  • Jika telur telah mengembang siap untuk disimpan dalam wadah penetasan

Penetasan

  • Padat tebar 400-500 butir telur per liter
  • Selama penetasan air harus dijaga kialitasnya (O2 4-8 ppm; pH 7,0-8,0; T:25-28 derajat C)
  • Pada suhu air 25-28 derajat C telur akan menetas 18-4 jam setekah pembuahan

Pemeliharaan Larva

  • Larva dipelihara langsung ditempat penetasan telur
  • Cangkang dan telur yang tidak menetas dibersihkan secara penyiponan
  • Hari ke 3 larva diberikan pakan Naupil Artemia (yang baru menetas) secukupnya
  • Pemberian pakan 3 kali sehari (pagi, siang ,sore)
  • Hari ke 7 setelah menetas benih ikan siap untuk didederkan di kolam

Pendederan

  • Persiapan kolam meliputi pengeringan 2-3 hari, perbaikan pematang, pembuatan saluran tengah (kamalir) dan pemupukan dengan pupuk kandung sebanyak 500-700 gr per m2. Kolam diisi air sampai ketinggian 80-100 cm. Pada saluran pemasukan dipasang saringan berupa hapa halus untuk menghindari masuknya ikan liar
  • Benih ditebarkan 3 hari setelah pengisian air kolam dengan padat penebaran 100-150 ekor/m2
  • Benih ikan diberi pakan berupa tepung hancuran pelet dengan dosis 10-20 % per hari yang mengandung lebih kurang 25% protein
  • Lama pemeliharaan 2-3 minggu
  • Benih yang dihasilkan ukuran 2-3 cm dan siap untuk pendederan lanjutan






free counters

KALENDER GUE

November 2017
S S R K J S M
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

FaceBook Gue Nich

Blog Stats

  • 44,131 hits

Top Clicks