Archive Page 2

19
Mar
12

aBowman » Fish

Add a touch of nature to your page with these hungry little fish.  Watch them as they follow your mouse hoping you will feed them by clicking the surface of the water.

melaluiaBowman » Fish.

Iklan
06
Nov
11

About SEA Games

South-East Asian Games (SEA Games) atau Pesta Olahraga Negara-negara Asia Tenggara adalah turnamen olahraga multicabang yang digelar setiap 2 tahun sekali.  Ajang ini berada di bawah regulasi South-East Asian Games Federation (SAGF). SAGF awalnya bernama South-East Asian Peninsular Games Federation (SAPGF), Penyelenggara South-East Asian Peninsular Games yang pertama kali diselenggarakan di bangkok 1959.

SEAP Games dicetuskan oleh Laung Sukhumnaipradit, pada saat itu Wakil Presiden Komite Olimpiade Thailand. Tujuannya adalah untuk mengeratkan kerjasama, pemahaman dan hubungan antar negara di kawasan ASEAN.  SEAP Games 1959 diikuti Thailand, Burma (sekarang Myanmar), Malaysia, Laos, Vietnam, Kamboja dan  Singapura. Negara-negara ini kemudian disebut sebagai negara pelopor.

Pada tahun 1977 SAEP Games di ubah namanya menjadi SEA Games seperti yang sering kita dengar sekarang.  Sampai tahun ini merupakan SEA Games yang ke-26 dan akan diikuti oleh 11 Negara anggota ASEAN.

Dari 25 kali penyelenggaraan SEAP Games/SEA Games, Thailand adalah negara yang paling banyak menjadi juara umum (peraih medali terbanyak) dengan 11 kali juara, kemudian Indonesia 9 kali juara, dan Burma(Myanmar) dengan 2 kali juara. Filipina, Vietnam dan Malaysia masing-masing pernah sekali menjadi juara umum.

Berikut Statistik penyelenggaraan SEA Games

No Kota Penyelenggara Negara Tahun Negara Peserta Juara Umum Perolehan Medali Emas
1 Bangkok Thailand 1959 6 Thailand 35
2 Rangoon Myanmar 1961 7 Myanmar 35
3 Kuala Lumpur Malaysia 1965 7 Thailand 38
4 Bangkok Thailand 1967 7 Thailand 77
5 Rangoon Myanmar 1969 7 Myanmar 57
6 Kuala Lumpur Malaysia 1971 7 Thailand 44
7 Singapore Singapore 1973 7 Thailand 47
8 Bangkok Thailand 1975 4 Thailand 80
9 Kuala Lumpur Malaysia 1977 7 Indonesia 62
10 Jakarta Indonesia 1979 7 Indonesia 92
11 Manila Filipina 1981 7 Indonesia 85
12 Singapore Singapore 1983 8 Indonesia 64
13 Bangkok Thailand 1985 8 Thailand 92
14 Jakarta Indonesia 1987 8 Indonesia 183
15 Kuala Lumpur Malaysia 1989 9 Indonesia 102
16 Manila Filipina 1991 9 Indonesia 92
17 Singapore Singapore 1993 9 Indonesia 88
18 Chiangmai Thailand 1995 10 Thailand 157
19 Jakarta Indonesia 1997 10 Indonesia 194
20 Brunei Brunei Darussalam 1999 10 Thailand 64
21 Kuala Lumpur Malaysia 2001 11 Malaysia 111
22 Ho Chi Minh Vietnam 2003 11 Vietnam 158
23 Manila Filipina 2005 11 Filipina 111
24 Nakhon Ratchasima Thailand 2007 11 Thailand 183
25 Vientiane Laos 2009 11 Thailand 86
26 Palembang & Jakarta Indonesia 2011 11 ??? ???

Sumber : Garuda Magazine November 2011 hal 101, Wikipedia Bahasa Indonesia

03
Okt
11

Membentuk Positif Thinking

Cara yang berguna untuk membantu kita membentuk pikiran positif :

1. Bayangkanlah akibat terburuk yang mungkin terjadi

Bila Kita cenderung mudah khawatir bahwa segala sesuatu tidak akan berjalan sesuai dengan yang Kita harapkan, bayangkanlah akibat terburuk yang mungkin terjadi. Dengan bertanya kepada diri sendiri, “Kemungkinan terburuk apakah yang bisa terjadi?“ Kita akan merasa lebih tenang dengan menerimanya kalaupun segala sesuatunya tidak berjalan sesuai dengan yang Kita harapkan , katakanlah pada diri sendiri bahwa semua itu bukanlah akhir dari segalanya. Langkah berikutnya , pikirkanlah cara – cara untuk membuat keadaan lebih baik sekali kita mulai bertindak Kita tidak akan mempunyai waktu untuk memikirkan kekhawatiran tersebut.

2. Lihatlah segala sesuatu secara khusus jangan disama ratakan

Sudah sewajarnya bila kita memilki satu hal yang tidak mampu kita kerjakan dengan baik. Karena itu kita tidak perlu menyamaratakan. Jangan sampai ketidakmampuan kita melakukan satu hal membuat kita merasa tidak mampu melakukan hal lain. Terkadang kita cenderung membesar – besarkan sesuatu hal dari yang sebenarnya. Misalnya seseorang murid merasa dirinya lengah dalam pelajaran Matematika, padahal ia hanya belum menguasai perkalian dan pembagian yang panjang. Jadi batasilah masalahnya, jangan dibesar – besarkan sehingga kita meragukan kemampuan kita sendiri.

3. Lakukanlah sebaik mungkin lalu terimalah bagaimanapun hasilnya

Bila kita telah berusaha mengerjakan sesuatu atau menyelesaikan sesuatu masalah dengan segenap kemampuan kita, selanjutnya hadapilah apapun yang akan terjadi, bahkan hal yang paling kritis sekalipun. Kita harus menyadari bahwa berpikir positif tidak berarti satu penyelesaian sesudah itu selesai. Ingatlah pepatah lama : Jika pertama kita gagal, coba, coba, dan cobalah lagi.

4. Akuilah prestasi dan kegagalan Kita

Jika hasil pekerjaan Kita memang baik, akuilah. Kita semua mudah merasa tidak enak jika mengalami kegagalan, jadi mengapa tidak merasa senang jika berhasil ? Terimalah dengan senang hati jika seseorang memuji Kita. Cara terbaik menerima pujian tanpa menjadi sombong adalah cukup dengan mengucapkan terima kasih.

 

Namun bila kita gagal, atau hasilnya tidak sesuai dengan kenyataan, hampir disemua tempat kita diprotes (yang masuk akal sehat), karena yang kita kerjakan mubazir, tidak imbang, seperti mengada-ada, memboroskan waktu, tenaga, biaya, dengan hasil yang sangat nihil, ya akuilah secara gentleman, jangan berkilah-kilah seperti orang stress tujuh keliling, jangan merasa apapun yang saya perbuat itu yang paling baik, dan harus diterima. Perencanaan yang matang dengan bermusyawarah pada ahlinya akan menghasilkan yang terbaik, walau lebih lambat prosesnya.

13
Sep
11

Aiken Import Fail Moodle 2

Bila kita menemui tidak bisa mengimport soal dengan format aiken pada moodle 2.1, padahal format penulisan sudah benar dan bila diimport pada moodle 1.9,  berarti ada script yang harus Anda rubah, script tersebut adalah

===================================================

The problem seems to be in ‘question/format/aiken/format.php’ around line 78.

 

If you change it from…

—-

if (preg_match(‘/^[A-Z][).][ \t]/’, $nowline)) {

// A choice. Trim off the label and space, then save

$question->answer[] = htmlspecialchars(trim(substr($nowline, 2)), ENT_NOQUOTES);

$question->fraction[] = 0;

$question->feedback[] = ”;

continue;

}

—-

 

to….

—-

if (preg_match(‘/^[A-Z][).][ \t]/’, $nowline)) {

// A choice. Trim off the label and space, then save

$question->answer[] = array(‘text’ => htmlspecialchars(trim(substr($nowline, 2)), ENT_NOQUOTES), ‘format’ => 0, ‘files’ => array());

$question->fraction[] = 0;

$question->feedback[] = ”;

continue;

}

—–

 

it resolves the import issue.

info lebih rumit dikit kunjungi link berikut >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

source:http://tracker.moodle.org/browse/MDL-28438?page=com.atlassian.streams.streams-jira-plugin%3Aactivity-stream-issue-tab

====================================================

12
Sep
11

Love Story in Harvard Soundtrack

So In Love
By: Kim Jung Woon

Spring, summer, fall & winter dreams
Those are shinning like a star
They keep whispering,
I’m so in love with you

Spring, summer, fall & winter love
It is breezing to my heart
And it keeps telling
I’ll make you rainbow smile

I remember when we were angels
When we dreamed about us
All my days were happy
just like a snowy christmas
I wish i’d have them always
Every step i make writes a story
It is full of the heart
Feeling love of my life
And missing friends of my time
I Wish i’d have them all

In Spring, summer, fall & winter days
We’ve been sharing all the hearts
Love shines in my eyes
Love just won’t fade away

I remember when we were angels
When we dreamed about us
All my days were happy
Just like a snowy christmas
I wish i’d have them always
Every step i make writes a story
It is full of the heart
Feeling love of my life
And missing friends of my time
I Wish i’d have them all

If you’d all the way show me the world
Where I will stay in love
All my days will be white
just like a snowy christmas
You’re just all I need

 

10
Agu
11

PSP TPS

PSP TPS : Pendidikan Sejarah Perjuangan The Panasdalam Serikat

 

Suara adzan Isya dari speaker masjid Salman ITB berkumandang. Mahasiswa lama sedang menghadiri sebuah acara orasi politik di lapang basket. Sebuah spanduk yang melintang di tengah boulevard berteriak: Selamat Datang Mahasiswa-Mahasiswi Terbaik Indonesia. Itu spanduk untuk menyambut mahasiswa baru yang sudah pada pulang sejak sebelum magrib tadi. Pohon tua yang merambati gerbang kampus sedang terlihat bagus berbunga dengan warnanya yang merah jingga, sedang agak kusam kena cahaya lampu merkuri. Kalender sedang memberitahu bahwa hari itu, malam itu, adalah tanggal 18 Agustus 1995. Cuaca Bandung oh asik sedang bagus-bagusnya. Kampus sedang selalu saja dalam keadaannya yang remang-remang, seperti sengaja untuk menyembunyikan arsip-arsip anti Orde Baru dan juga menyembunyikan mata-mata yang disebar di sana.

 

 

Beberapa mahasiswa sedang ngobrol di unitnya masing-masing. Dan dia yang berdiri di atas meja persegi empat, di sebuah ruangan di lantai dua yang bernama ruangan kuliah studio seni lukis ITB itu, adalah saya. Berdiri untuk membacakan teks proklamasi berdirinya Negara Kesatuan Republik The Panasdalam, disaksikan oleh beberapa kawannya yang diundang untuk duduk di kursinya masing-masing. Bicara saya bahwa mencintai sebuah negara yang bukan lagi menjadi milik bangsanya, tetapi sudah menjadi milik sebuah keluarga di Jakarta, adalah mencintai siapa yang menjadi pemiliknya. Dan apabila kita membencinya, ini celaka maka kita akan dengan begitu mudah dianggap sudah membenci siapa pemiliknya, lalu ditangkap, lalu kena skorsing. Dan malam ini, malam yang romantis ini, adalah malam yang saya juga ingin bilang bahwa inilah harinya kita menyatakan diri membuat sebuah negara sendiri, negara yang biar hanya seluas ruangan kuliah tapi adalah murni milik diri sendiri.

 

 

“Jelek-jelek juga hasil keringat sendiri!!”, seseorang memotong kalimat pidato saya.

 

“Iya”, jawab saya supaya cepet,”Negara yang bila susah maka semua susah, negara yang bila senang, semua sama merasakannya. Negara yang, satu-satunya di dunia, presidennya hapal nama penduduknya”. Hadirin bertepuk tangan.”Saya mohon tepuk tanganlah di saat yang tidak tepat”. Hadirin bertepuktangan lagi.

 

“Sebelum saya bacakan teks proklamasi ini, mungkin bagus kalau diadakan dulu tanya jawab yang berhubungan dengan maksud kita mendirikan negara sendiri. Biar matang”

 

“Saya”, seseorang yang tidak perlu saya sebut namanya mengacungkan tangan,”Berapa luas wilayah negaranya”

“Harus diukur dulu”, seseorang yang lain bicara.

“Iya nanti kita ukur, yang pasti seluas ruangan ini”, jawab saya yang sudah duduk di atas meja.

 

“Bagaimana dengan orangtua kita?”, seseorang bertanya

“Iya, pacar kita”, sambung yang lain.

“Biarlah mereka di luar negeri, di Indonesia”, jawab saya,”Ini keren, betapa kayarayanya kita ini, bahkan mau ke toilet pun harus pergi ke luar negeri. Merokok dari hasil import. Makan ke luar negeri..

“Ha ha, heueuh da gampang tinggal muka panto”, celetuk seseorang yang artinya: ya iya lah karena gampang cuma tinggal buka pintu aja.

“Tepuk tangan dulu euy”. Semuanya tepuk tangan termasuk juga saya, “Iya kan? Enak. Kuliah aja ke luar negeri. Kecuali mungkin yang mahasiswa lukis, tinggal duduk aja nunggu dosen dari luar negeri datang”.

“Ya, betul. Tapi pulang dulu keluar negeri”

“Dan kita bisa memandang luar negeri dengan hanya melongokkan kepala keluar jendela”

 

“Apa tujuannya?”, seseorang bertanya.

“Tujuan? Tujuan melongok?”, saya ingin tahu apa maksud pertanyaannya. Seseorang tepuk tangan yang kemudian diikuti oleh lainnya.

“Bukan. Tujuan berdirinya negara ini?”

“Tujuan berdirinya negara ini adalah membuat sebuah negara yang tidak memiliki tujuan”

“Bersenang-senang”

“Ya, bersenang-senang”

 

“Harus punya slogan”

“Iya, nanti kita bikin sama-sama. Lambangnya juga”

“Bendera juga”

“Iya. Benderanya juga”

 

“Siapa Presidennya?”, seseorang bertanya

“Jangan kamu, Pid”, celetuk seseorang yang lain.

“Iya jangan saya. Harus diadakan Pemilu setelah selesai acara”

 

“Eh, nama negaranya apa?”

“Saya sudah konsultasi sama guru saya, Ninuk. Kemarin. Saya mengajukan nama Panasdalam”, jawab saya. The Panasdalam ini beberapa tahun kemudian oleh Ramok, kini dosen DKV di ITS, dialihbahasakan ke dalam bahasa inggris menjadi Hot Inside Cool Outside.

 

“Wah ha ha kok nama penyakit!!!”

“Makanya saya kasih The di depannya untuk membedakan dari itu. Tidak ada panasdalam selain The Panasdalam”

“Kenapa Panasdalam’

“Iya. Bandung dingin. Di luar dingin, di dalam hareudang”, jawab saya. Hareudang itu bahasa sunda, artinya panas.

 

“Pid, kayak yang mau menyaingi Panasonic”

“Ha ha ha”

“Terserah apa namanya”, celetuk seseorang.

“Atau Panasdalam itu singkatan”, kata saya,”Lam nya Islam, Da nya Hindu Buddha, Nas nya Nasrani. Pa nya paganisme. Kita di sini kan berbeda agama, malah ada juga yang pagan”

“Si Pupus”, jawab seseorang menyebut salah seorang yang ada hadir di situ.

“Saya bukan Pagan, agama saya pangan, ajarannya pangan ora pangan kumpul”

“Ha ha ha”

“The nya?”

“The nya? Singkatan dari The Panasdalam”

“Iyaaa”

“Artinya, “sambung saya, “inilah sebuah negara yang masyarakatnya bersikap menjunjung toleransi beragama yang bukan sekedar di mulut saja”.

 

“Penduduknya segini?”

“Nanti akan ditulis siapa saja yang mau”

 

Itu adalah dialog yang berhasil saya ingat. Setelah acara dialog selesai, saya kembali berdiri dan membacakan proklamasi tentang berdirinya sebuah negara bernama Negara Kesatuan Republik The Panasdalam, yang disingkat menjadi NKR THE PANASDALAM. Malam setelah itu kemudian menjadi semakin larut. Saya ada janji mau nginep di rumah Ninuk dan permisi pulang. Semua akhirnya pada pulang juga ke tempanya masing-masing. Pulang membawa janji untuk besok ketemu lagi di tempat yang sama, di tempat yang terang oleh banyak lampu neon itu, yang jika kau memandangnya dari jauh pada malam hari, kau akan melihat sebuah ruangan terang itu dipenuhi oleh bayangan manusia, bayangan mahasiswa, yang kalau dipikir-pikir –dipikir oleh kamu yang lebih betah di rumah–mau apa sih malam-malam masih juga ada di kampus. Link Pendidikan Sejarah Perjuangan

10
Agu
11

Argumentum in Absurdum

The PanasDalam, band aneh dari Bandung, lagu-lagunya sangat menjengkelkan, tapi saya memutarnya hampir setiap hari, di bis, di kamar, atau lagi tiduran di mesjid–saya ulang-ulang hampir semua lagunya, masih tetap aneh, kenapa saya ketawa-ketawa, padahal ngantuk berat. Saya upload lagu-lagunya, biar kapan-kapan dimanapun bisa saya saya download, agar persoalan ini. Ada saatnya imajinasi menemukan pernyataan-pernyataan yang jarang dipikirkan, dan pikiran-pikiran yang susah dinyatakan. Barangkali disebabkan musik, atau jiwa yang bebas. Kurang ajar, atau mungkin semestinya jujur. Atau karena hidup di zaman ini mesti disikapi dengan pikiran-pikiran aneh, “kurang ajar”, bruk-brak, lelucon, humoris, tapi tetap kritis.  Suara itu, lamat, seperti dari hati, semaam idealisme yang aneh, putus asa yang aneh, harapan, marah, pengalaman yang aneh, absurd. Tapi toh seringkali kebenaran ditemukan dalam tumpukan tawa dan canda.

 

Selalu, hanya kelompok kecil saja yang mau manjadi “martir” untuk hidup yang banal ini,  berdebat dengan banyak cara, alat, medium…hanya sekedar ingin menanam dalih dalam pedih. Orang-orang absurd, hidup absurd, memakai kesenian untuk meruncingkan senyum yang sinis bagi gempita keseharian, filsafat, gaya hidup, budaya dan sistem yang ironis, yang terkadang bengis. Saya dengar ada Erwin, Nawa Pandal, Cahya, Roy, Pidi Baiq,  siapapun, yang bergeletakan jadi wirid yang liat sebagai Argumentum in Absurdum–terlepas pergantian personil, masa bodo, tak sedikipun saya peduli, toh yang penting karya-karyanya yang lahir, yang bisa kita dengar, sampai  untuk anak cucu kita.

 

Ternyata hidup di dunia ini untuk bersenang-senang, ya daripada mati bunuh diri. Tertawa-tawa, daripada terbawa-bawa kecewa tanpa tawa. Jarang benar orang bisa berpikir di saat ia tertawa. Ko renungan, hikmah, kebenaran dsb. selalu saja identik dengan buku tebal nan serius? Sistem logika yang rapi dan rumit? Sebenarnya sungguh lucu hidup ini, pikiran ini, hanya saja kita 24 jam terlalu serius mengisi “teka-teki silang” hidup ini. Jadi ingat ungkap Milan Kundera, saat manusia berpikir, Tuhan tertawa, tapi toh tawa adalah salah satu bentuk  “pikiran yang bebas”, bahwa humor selalu hadir dalam proses yang tak pernah usai, seperti juga musik yang diterima oleh manusia dalam liku wajah sejarah yang berubah-ubah, warna budaya berbeda-beda.   Para pejabat boleh bersenang-senang denga politik, rakyat pun bisa bersenang-senang dengan musik.

 

Betapa selama ini keseharian kita masih berputar dalam jalur yang kaku, tanpa tawa, tak pandai menertawakan diri sendiri. Lantas dengan apa segalanya bisa kita sampaikan, jika jiwa dan pikiran masih terbelenggu kaidah-kaidah, sopan santun aspirasi, feodalisme komunikasi dan bisikan eufimisme? Kita butuh seni yang bisa membebaskan gagasan dan imajinasi yang gila sekalipun, semacam medium katarsis yang pada gilirannya akan membuat kita bisa menerima banyak kenikmatan dan kesenangan dalam menghayati hidup. Inovasi, kreativitas bahkan kebenaran yang segar ternyata bisa kita temukan jika diri kita dalam keadaan gila, bebas, tertawa, ektase….meureun. Ah, ko dibikin rumit, yang penting raga sehat, jiwa kiat, hati dan pikiran senang.

 

Link : Kompasiana, Facebook




free counters

KALENDER GUE

September 2017
S S R K J S M
« Feb    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

FaceBook Gue Nich

Blog Stats

  • 43,847 hits

Top Clicks

  • Tidak ada