10
Agu
11

Argumentum in Absurdum

The PanasDalam, band aneh dari Bandung, lagu-lagunya sangat menjengkelkan, tapi saya memutarnya hampir setiap hari, di bis, di kamar, atau lagi tiduran di mesjid–saya ulang-ulang hampir semua lagunya, masih tetap aneh, kenapa saya ketawa-ketawa, padahal ngantuk berat. Saya upload lagu-lagunya, biar kapan-kapan dimanapun bisa saya saya download, agar persoalan ini. Ada saatnya imajinasi menemukan pernyataan-pernyataan yang jarang dipikirkan, dan pikiran-pikiran yang susah dinyatakan. Barangkali disebabkan musik, atau jiwa yang bebas. Kurang ajar, atau mungkin semestinya jujur. Atau karena hidup di zaman ini mesti disikapi dengan pikiran-pikiran aneh, “kurang ajar”, bruk-brak, lelucon, humoris, tapi tetap kritis.  Suara itu, lamat, seperti dari hati, semaam idealisme yang aneh, putus asa yang aneh, harapan, marah, pengalaman yang aneh, absurd. Tapi toh seringkali kebenaran ditemukan dalam tumpukan tawa dan canda.

 

Selalu, hanya kelompok kecil saja yang mau manjadi “martir” untuk hidup yang banal ini,  berdebat dengan banyak cara, alat, medium…hanya sekedar ingin menanam dalih dalam pedih. Orang-orang absurd, hidup absurd, memakai kesenian untuk meruncingkan senyum yang sinis bagi gempita keseharian, filsafat, gaya hidup, budaya dan sistem yang ironis, yang terkadang bengis. Saya dengar ada Erwin, Nawa Pandal, Cahya, Roy, Pidi Baiq,  siapapun, yang bergeletakan jadi wirid yang liat sebagai Argumentum in Absurdum–terlepas pergantian personil, masa bodo, tak sedikipun saya peduli, toh yang penting karya-karyanya yang lahir, yang bisa kita dengar, sampai  untuk anak cucu kita.

 

Ternyata hidup di dunia ini untuk bersenang-senang, ya daripada mati bunuh diri. Tertawa-tawa, daripada terbawa-bawa kecewa tanpa tawa. Jarang benar orang bisa berpikir di saat ia tertawa. Ko renungan, hikmah, kebenaran dsb. selalu saja identik dengan buku tebal nan serius? Sistem logika yang rapi dan rumit? Sebenarnya sungguh lucu hidup ini, pikiran ini, hanya saja kita 24 jam terlalu serius mengisi “teka-teki silang” hidup ini. Jadi ingat ungkap Milan Kundera, saat manusia berpikir, Tuhan tertawa, tapi toh tawa adalah salah satu bentuk  “pikiran yang bebas”, bahwa humor selalu hadir dalam proses yang tak pernah usai, seperti juga musik yang diterima oleh manusia dalam liku wajah sejarah yang berubah-ubah, warna budaya berbeda-beda.   Para pejabat boleh bersenang-senang denga politik, rakyat pun bisa bersenang-senang dengan musik.

 

Betapa selama ini keseharian kita masih berputar dalam jalur yang kaku, tanpa tawa, tak pandai menertawakan diri sendiri. Lantas dengan apa segalanya bisa kita sampaikan, jika jiwa dan pikiran masih terbelenggu kaidah-kaidah, sopan santun aspirasi, feodalisme komunikasi dan bisikan eufimisme? Kita butuh seni yang bisa membebaskan gagasan dan imajinasi yang gila sekalipun, semacam medium katarsis yang pada gilirannya akan membuat kita bisa menerima banyak kenikmatan dan kesenangan dalam menghayati hidup. Inovasi, kreativitas bahkan kebenaran yang segar ternyata bisa kita temukan jika diri kita dalam keadaan gila, bebas, tertawa, ektase….meureun. Ah, ko dibikin rumit, yang penting raga sehat, jiwa kiat, hati dan pikiran senang.

 

Link : Kompasiana, Facebook


0 Responses to “Argumentum in Absurdum”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


free counters

KALENDER GUE

Agustus 2011
S S R K J S M
« Jun   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

FaceBook Gue Nich

Blog Stats

  • 42,640 hits

Top Clicks

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: