04
Mar
11

dipasena oh dipasena

Suka makan udang? Hewan crustacea yang satu ini memiliki rasa manis yang khas. Ada begitu banyak variasi menu makanan yang berbahan dasar hewan bercarapas ini . mulai dari kerupuk, sate, sampai dendeng. Tapi maaf kali ini kita tidak akan membahas cara membuat makanan dengan bahan dasar udang, melainkan tentang sebuah cerita dari tempat penghasil udang terbesar di negeri ini, sebuah tempat yang hingga hari ini di penuhi dengan orang-orang yang belum juga mengecap manisnya kemerdekaan dari belasan tahun perjuangan. Mungkin ini hal yang lumrah di negeri ini, namun tempat ini pernah menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar untuk negeri ini dari sektor perikanan.

sunset

Ironis memang, jika sumber daya alam negeri ini dilepas begitu saja pada investor asing yang tak pernah becus dalam manajemen semetara kita sibuk berkoar tentang pemberantasan kemiskinan.

Kondisi dipasena (tambak udang terbesar diasia tenggara) yang kini telah di ambil alih oleh Charoen pokphand Thailand terlihat semakin mengenaskan, walau mungkin pembangunan infrastruktur yang dilakukan menutupi mata perhatian dunia luar, namun kondisi yang sebenarnya masih teramat jauh dari apa yang di harapkan oleh ribuan rakyat negeri ini yang menyandang jabatan sebagai petambak ex dipasena. Empat tahun yang lalu charoen pokphand group mengambil alih kekuasaan wilayah pertambakan diujung utara lampung ini yang kemudian merubah namanya menjadi pt Aruna Wijaya Sakti.

Gebrakan awal yang dibuat oleh pihak manajemen perusahaan memang sempat membuat sebagian petambak yakin dan percaya bahwa pt AWS mampu merubah kondisi kehidupan mereka yang sudah belasan tahun terpuruk dalam perjuangan menuju kesejahteraan. Namun lambat laun gema revitalisasi tersebut meredup seolah lenyap tersapu angin rawa, dan hanyut terbawa arus pasang surut air kanal.

Keuangan adalah faktor utama yang menyebabkan terhentinya proses revitalisasi di bumi dipasena namun, di berbagai media massa pihak manajemen perusahaan selalu berdalih tentang tekhnis, musim, cuaca dan sebagainya, yang mengharuskan mereka memperlambat proses revitalisasi yang sedang berjalan di wilayah yang sangat strategis untuk budidaya udang tersebut. Bumi dipasena diapit oleh dua sungai besar dilampung, sehingga menciptakan kondisi perairan yang kondusif bagi usaha budidaya udang. Menjadikan alam sebagai alasan untuk memperlambat proses budidaya dan revitalisasi sungguh tidak relevan. Terlebih dengan tekhnologi water treatment yang diterapkan oleh pihak perusahaan sebagai standart operasi budidaya yang dilakukan, tekhnologi yang juga memberatkan para petambak, karna biaya operasional yang dibebankan untuk tekhnologi tersebut tidak sesuai dengan hasilnya.

Demikian pula halnya dengan teknis pengerjaan tambak dan beberapa infrastruktur lainnya, para petambak telah siap menjadi tenaga kerja untuk mengerjakan tambaknya masing-masing. Yang sudah barang tentu mereka lebih memahami karakteristik tambak mereka sendiri sehingga tekhnis pengerjaan bisa lebih efektif.

Sudah belasan tahun para petambak terpuruk dalam kondisi yang tak tentu arah, yg kemudian dengan kebijakan pemerintah seluruh asset pt dipasena ini dilimpahkan kepada charoen pokphand group dengan harga lelang yang terbilang murah. Dengan harapan proses revitalisasi dan ekonomi ribuan petambak dapat pulih kembali dengan secepatnya. Namun hingga hari ini, kondisi di bumi dipasena masih juga terpuruk…


0 Responses to “dipasena oh dipasena”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


free counters

KALENDER GUE

Maret 2011
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

FaceBook Gue Nich

Blog Stats

  • 42,661 hits

Top Clicks

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: