18
Feb
09

” si Tiger ” akan kembali menjadi Primadona

dok-trobosSalah satu komoditas perikanan budidaya yang masih memiliki peluang usaha cukup baik untuk konsumen lokal (domestik) dan konsumen luar negeri adalah Udang windu. Hal ini disebabkan oleh rasa udang windu yang enak dan gurih serta kandungan gizinya yang sangat tinggi. Daging udang windu diperkirakan mengan­dung 90% protein. Menurut Hirota (1990), protein dalam daging udang (termasuk udang windu) mengandung asam amino esensial cukup lengkap. Keunggulan udang windu lainnya adalah kandungan lemaknya hanya sedikit.


Ketertarikan konsumen terhadap udang windu tidak sebatas pada rasa dagingnya yang lezat. Limbah dari bagian tubuh udang windu juga menjadi daya tarik tersendiri. Bagian kepala dan cangkangnya (carapace) bisa memberi nilai tambah yang cukup berarti. Limbah kulit udang ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai industri, seperti industri farmasi, kosmetika, pangan, dan tekstil. Salah satu kandungan kulit udang yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku industri adalah chitin dan chitosan (senyawa turunan dari chitin). Kulit udang mengandung chitin 10­-60%, dari berat keringnya. Pasar utama chitin di dunia adalah Jepang, Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman.


Potensi Udang Windu

100_0322Udang windu merupakan komoditas ekspor andalan pemerintah untuk menggaet devisa negara sehingga pengembangan ekspornya menjadi perhatian utama. Hal ini terbukti dengan dicanangkannya PROTEKAN 2003 dengan target nilai ekspor sebesar 7,6 milyar dollar Amerika yang sekitar 6,78 milyar dollar Amerika (70%) berasal dari hasil penjualan udang. Negara tujuan ekspor udang Indonesia saat ini adalah Jepang, Amerika Serikat, Singapura, Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, dan Cina. Besarnya ekspor udang ke Jepang pada tahun 1998 mencapai 60% dari total ekspor udang Indonesia. Sementara itu, total impor udang dari Jepang pada tahun 1998 sebesar 238.900 ton. Saat ini, Indonesia masih menjadi pemasok utama udang ke Jepang dengan pangsa pasar 22,48% dari total impor udang Jepang.


Karakteristik Udang Windu

Udang windu merupakan organisme yang hidup di perairan yang berkadar garam dengan rentangan yang luas, yakni 5-45ppt. Kadar garam ideal untuk pertumbuhan udang windu adalah 19-35 ppt. Udang windu stadium juvenil (muda) umumnya memiliki laju pertumbuhan yang baik di perairan berkadar garam tinggi. Sebaliknya, semakin dewasa udang windu, pertum­buhan optimalnya justru terjadi di perairan yang berkadar garam rendah. Oleh karena itu udang windu banyak dibudidayakan di wilayah pesisir dengan kadar garam bervariasi. Di Indonesia lokasi paling potensial untuk budidaya udang windu adalah pesisir timur Pulau Sumatera (Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, dan Lampung), pesisir utara Pulau Jawa (pantura), pesisir Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara, Sulawesi, serta Papua.


Kompetisi dengan Udang Vannamei

Usaha budidaya udang windu yang pernah berjaya dan menjadi primadona ekspor nonmigas Indonesia akhirnya “collapse” akibat terserang penyakit.  Virus white spot merupakan salah satu penyebab utama hancurnya usaha budidaya udang windu di tanah air.  Bisnis budidaya udang pun sempat vacuum selama beberapa tahun, sebelum akhirnya masuk udang Vannamei yang dikatakan bebas virus dan penyakit karena sudah melalui proses sertifikasi yang ketat.


Tetapi berbagai keunggulan vannamei bukanlah tanpa cacat, petani udang Indonesia menjadi tergantung dengan negara lain.  Karena induk udang vannaei yang masuk ke Indonesia harus didatangkan dari Hawai sebagai pusat pengadaan benih dan induk udang vannamei.  Induk yang diekspor ke Indonesia diduga bukan yang berkualitas bagus, sehingga benih yang dihasilkan pun memiliki kualitas lebih rendah daripada benih yang didatangkan langsung dari Hawai.  Akibatnya sudah bisa ditebak, produksi udang vannamei Indonesia kian menurun.


Penurunan produksi udang vannamei semakin diperparah dengan mulai bermunculannya beberapa jenis penyakit, baik virus maupun bakteri.  Kini, udang vannamei tak lagi bebas dari virus dan penyakit, beberapa pengusaha pun telah gulung tikar yang disebabkan panen udang vannamei selalu gagal.  Masyarakat akuakultur pun kembali melirik udang lokal yang selama ini terabaikan, udang Windu.


Kegalan budidaya vannamei mestinya menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa usaha apaun yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap produk impor adalah sangat beresiko dan berbahaya bagi ketahanan nasional.  Disaat krisis keuangan global, produk yang memiliki muatan impor tinggi sangat rentan terhadap dampak krisis.  Marilah kita kembali mengembangkan produk dan spesies lokal.  Penyakit yang sempat mendera udang windu beberapa tahun lalu bukanlah menjadi alasan yang tepat untuk lari ke vannamei, tetapi semestinya menjadi pendorong dilakukannya penelitian lebih lanjut untuk mencari penyebab dan solusinya.

dari : http://www.musida.web.id/


0 Responses to “” si Tiger ” akan kembali menjadi Primadona”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


free counters

KALENDER GUE

Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

FaceBook Gue Nich

Blog Stats

  • 42,661 hits

Top Clicks

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: