Archive for the 'Perikanan' Category

24
Mar
11

Bakteri Antagonis

Keberadaan bakteri pembusuk pada produk hasil perikanan banyak menimbulkan kerugian.  Salah satu penyebab kebusukan hasil perikanan diakibatkan oleh aktivitas mikroba pembusuk. Mikroba ini sudah ada sejak ikan masih hidup, namun baru terlihat aktivitasnya saat ikan dipanen atau ditangkap.  Mikroba utama penyebab kebusukan hasil perikanan adalah Pseudomonas, Achromobacter, Flavobacterium, Coryneform dan Micrococcus.
Sekitar 20 persen produk perikanan tidak dapat dimanfaatkan karena menjadi busuk. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghambat aktivitas bakteri pembusuk pada produk perikanan sudah dilakukan.  Aktivitas mikroba pembusuk dapat dihambat dengan mengendalikan kondisi lingkungan tempat hidup mikroba pembusuk.  Penurunan suhu dan kelembaban, penurunan Aw, atau pengaturan komposisi udara dapat menghambat aktivitas mikroba pembusuk.  Penggunaan  suhu rendah berhasil mengatasi gangguan bakteri pembusuk, demikian pula dengan penggunaan teknik radiasi. Namun kedua teknik ini relatif sulit diterapkan dimasyarakat kerena membutuhkan teknologi dan biaya besar.  Sedangkan peningkatan suhu, penambahan senyawa kimia tertentu, penurunan pH atau dehidrasi dapat membunuh mikroba pembusuk.

Penggunaan bahan kimia yang selama ini dilakukan untuk menghambat aktivitas bakteri pembusuk telah menimbulkan dampak negatif sehingga penggunaannya mulai dikurangi.  Lebih parah lagi bila bahan kimia yang digunakan bukan bahan kimia untuk pangan, misalnya pestisida dan formalin.  Kedua bahan kimia ini sudah digunakan secara ilegal untuk mengawetkan hasil perikanan.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi keberadaan bakteri pembusuk adalah menggunakan bakteri antagonis.  Bakteri antagonis adalah bakteri yang memiliki sifat berlawanan dengan bakteri pembusuk, patogen atau yang tidak diharapkan.  Bakteri antagonis sering disebut sebagai bakteri menguntungkan, karena dapat digunakan untuk menghambat atau menghentikan aktivitas bakteri pembusuk yang merugikan.

Mikroba antagonis yang digunakan tidak menimbulkan bahaya apabila dikonsumsi.  Sedikitnya ada 40 genus mikroba antagonis yang aman untuk dikonsumsi.  Jenis mikroba yang paling banyak digunakan untuk memperpanjang masa simpan hasil perikanan adalah Lactobacillus plantarum.  Bakteri ini termasuk kedalam keluarga Bakteri Asam Laktat (BAL) paling kuat diantara saudara-saudaranya, sehingga banyak digunakan sebagai pengawet.

Penggunaan bakteri antagonis sebagai mikroba pengawet sangat mudah.  Bakteri ini dapat diperoleh dalam bentuk biakan murni atau diproduksi secara sederhana.  Asinan sawi, asinan kubis, atau acar mentimun adalah sumber bakteri asam laktat.  Produk tersebut sudah biasa dibuat oleh masyarakat Indonesia.  Pengetahuan mengenai penggunaan bakteri antagonis berdasarkan prinsip fermentasi.  Fermentasi mampu menghentikan proses pembusukan hasil perikanan dengan cara  mengendalikan populasi mikroba pembusuk.

Mekanisme bakteri antagonis dalam menghambat aktivitas bakteri pembusuk cukup menarik untuk diteliti.  Ada tiga mekanisme yang digunakan oleh bakteri antagonis untuk mencegah bakteri merugikan.  Pertama, menimbulkan persaingan makanan sedemikian rupa sehingga bakteri pembusuk sulit mendapatkan makanan; kedua, menurunkan pH lingkungan sehingga aktivitas bakteri pembusuk terganggu dan menjadi tidak dapat bertahan hidup; dan ketiga, menghasilkan produk metabolit yang bersifat racun bagi bakteri bakteri merugikan.

Penambahan mikroba antagonis dapat dilakukan pada hasil perikanan segar maupun olahannya.  Penambahan mikroba antagonis pada filet nila dapat memperpanjang masa simpan dari 7 hari menjadi 10 hari, sedangkan pada ikan patin utuh dapat memperpanjang dari 10 hari menjadi 14 hari.  Penambahan mikroba antagonis dapat meningkatkan masa simpan kembung asin dari 30 hari menjadi 90 hari.

24
Mar
11

Teknik Memeriksa Benur yang Berkualitas Baik

Salah satu faktor keberhasilan usaha budidaya udang adalah penebaran benur yang berkualitas baik. Kondisi benur yang berkualitas baik, berarti benur tersebut dalam keadaan sehat atau bebas dari penyakit, nafsu makan yang tinggi serta tidak cacat dan ini merupakan faktor pendukung untuk mencapai pertumbuhan optimal maupun tingkat kehidupan yang tinggi.

Dewasa ini teknik menginduksi benur secara massal bukan merupakan sesuatu yang sukar. Sudah banyak teknisi dapat memenuhi target produksi yang secara komersial menguntungkan. Keberhasilan ini pada umumnya hanya sebatas di tempat perbenihan (Hatchery), karena hampir semua parameter kualitas air, pakan dan penyakit dapat dikendalikan, lain halnya dengan pembesaran udang di tambak, khususnya pada usaha budidaya udang teknologi sederhana dan semi intensif yang sebagian besar tergantung pada keadaan alam, sedangkan usaha untuk mengendalikan parameter kualitas air, pakan dan penyakit adalah sangat terbatas. Maka tingkat keberhasilan budidaya udang juga sangat rendah.

Mengingat besamya pengaruh kualitas benur terhadap keberhasilan budidaya udang, maka petani tambak sebaiknya memahami terlebih dahulu bagaimana cara memeriksa atau faktor apa saja yang akan diperiksa dalam mendapatkan benur. Bila perlu sampai ke sumber pertama benih itu diperoleh seperti di tempat pembenihan (Hatchery).

Secara visual atau penglihatan mata biasa dapat dibedakan antara benur yang baik dan yang tidak baik, yaitu antara Iain ;

  1. Semua organ tubuh benur yaitu ekor, mata, kaki, antara kulit dalam keadaan lengkap dan tidak cacat;
  2. Gerakan benur lincah dan suka melawan arus;
  3. Bentuk tubuh ramping memanjang;
  4. Warna tubuh jernih / putih kecoklatan;
  5. Benur sensitif atau peka terhadap gangguan fisik pada lingkungannya, seperti benur akan segera bergerak cepat atau bila dikejutkan;
  6. Keadaan tubuh benur bersih dari kotoran dan Iumut;
  7. Benur aktif mencari makan dan nafsu makan tinggi;
  8. Tidak ada perubahan warna yang mencolok pada benur pada kondisi terang maupun gelap;
  9. Kuaiitas air berbagai media hidup benur harus benar-benar baik dan bebas penyakit;
  10. Fototatis positif yaitu suka pada cahaya;
  11. Ukuran benur relatif seragam.

Dalam upaya mendapatkan benur siap tebar yang berkualitas baik, khususnya yang bersumber dan tempat pembenihan (Hatchery), berikut ini dijelaskan beberapa faktor yang harus mendapat perhatian untuk diperiksa :

Pembersihan Air

Melihat tingkat kejenuhan air di dalam bak pemeliharaan benur bila terdapat endapan sisa pakan atau air yang berbuih serla bau membusuh, hal ini menunjukkan rendahnya kualitas air. Karena air mengandung bahan organik yang memproduksi gas-gas beracun seperti sulpida, meta dan sebagainya. Akibatnya benur menjadi stres dan peka terhadap penyakit.

Kecerahan Air (Turbidity)

Memeriksa kecerahan air di dalam bak pemeliaraan benur, yaitu pewamaan air yang disebabkan oleh populasi plankton di dalam air. Air yang baik adalah tidak terlalu cerah melainkan berwarna kehijauan atau kecoklatan. Keadaan ini menunjukkan banyak populasi plankton di dalam air. Sehingga akan menyediakan pakan alami, menghilangkan berbagai jenis senyawa beracun di dalam air seperti NH3, H2S, CH4 dan sebagainya. Serta dapat mengurangi stres pada benur.

Warna Benur

Warna benur sangat tergantung pada warna bak dan warna air jika benur terlihat berwarna merah atau merah jambu atau putih kekapuran, keadaan ini menunjukkan kemungkinan besar benur tidak sehat atau sudah lerinfeksi penyakit. Sebaiknya warna benur putih jernih kecoklatan alau kehitaman.

Kelengkapan dengan Tubuh

Melihat apakah ada organ tubuh dari benur yang rusak atau hilang, memang sukar melihat satu persatu apakali benur mengalami kerusakan dengan tubuhnya seperti kaki, mata, ekor dan antena, tetapi contoh secara acak harus diamati jika ada benur yang mengalami kerusakan pada mata atau hilang atau kerusahkan pada ekor, kaki, dan sebagainya, itu berati banyak benur mengalami kerusakan selama proses pemindahan dari satu bak ke bak lainnya, atau karena saling memangsa sesamanya akibatnya benur peka terhadap infeksi penyakit dan juga pertumbuhannya menjadi lambat.

Posisi Benur

Lihat kedalam bak, jika kebanyakan benur menempel atau bergantung di dinding bak atau suka berenang melawan arus, maka menunjukkan benur dalam keadaan sehat. Baik benur terlihat mengatur atau tenang dengan lemah maka kondisi benur tidak sehat.

Cara ini dapat dilakukan yaitu mengambil air dengan gayung tepat berada di atas batu aerasi. Biasanya benur yang lemah atau terapung-apung di dasar bak dan akan terbawa oleh arus air, sehingga jika air yang diambiI tepat di atas batu aerasi mengandung banyak benur, hal ini menunjukkan bahwa di dalam bak banyak benur yang lemah.

Mengamati Benur dalam Kondisi Gelap

Ini suatu cara yang mudah dilakukan untuk mengetahui apakah benur yang sudah atau benur yang terinfeksi oleh bakteri Vibrine sp yaitu, suatu jenis bakteri yang dominan menyerang udang sekarang ini.

Dalam kondisi gelap atau tepatnya pada malam hari dengan tidak menggunakan lampu, dapat dilihat titik cahaya yang menempel pada tubuh benur sehingga tubuh benur menjadi bercahaya. Titik-titik cahaya itu adalah baklen Vibrine sp yang menempel pada lapisan luar tubuh benur maupun yang masuk kedalam jaringan tubuh benur. Jika sudah terlihat tanda-tanda seperti ini berarti sudah positif benur terinfeksi bakteri yang berbahaya bagi kehidupan benur. Hindari penggunaan benur yang berasal dan suatu tempat pembenihan yang salah satu bak pemeliharaan benurnya terkena infeksi bakteri Vibrine sp. bakteri Vibrine sp dapat menyerang benur pada tempat yang luas dan dalam waktu yang singkat serta berakibat mematikan bagi benur.

24
Mar
11

Jenis Penyakit pada Budidaya Udang

Dalam sejarah perkembangan budidaya udang windu di Indonesia dijumpai banyak kendala yang mengakibatkan produksi udang berfluktuasi. Kendala itu adalah berjangkitnya wabah penyakit yang berakibat pada kematian udang secara massal di tambak. Selain itu, faktor kualitas lingkungan juga memegang peranan penting dalam epizootiologi penyakit. Diantara jenis penyakit yang menyerang udang windu, penyakit viral adalah penyakit yang paling ganas dan mengakibatkan kerugian paling besar. Tercatat wabah penyakit kepala kuning, dan bercak putih telah melanda pertambakan Indonesia danmengakibatkan kematian udang berumur antara 1 – 2 bulan.

PENYAKIT VIRAL

Pada dekade terakhir, penyakit viral telah mengakibatkan kerugian yang cukup besar di kalangan petambak. Penyebaran penyakit terjadi secara cepat dan melanda satu kawasan dalam waktu sangat singkat. Ada sekitar 5 jenis penyakit viral yang telah dideteksi yaitu IHHNV (Infectious Hypodermal and Hematopoitic Necrosis Virus), HPV (Hepatopancreatic Parvolike Virus), MBV (Monodon Baculavirus), SEMBV (Systemic Ectodermal and Mesodermal Baculovirus), YHV (Yellow Head Virus).

Jenis MBV dan SEMBV telah dideteksi meluas di seluruh tambak di Indonesia. Penyakit ini menyerang udang berumur 1 – 2 bulan telah tebar. Serangan MBV ditandai dengan perubahan hepatopankreas yang menjadi kekuningan karena mengalami kerusakan. Kasus ini melanda sejak tahun 1998 dengan tingkat kematian lebih dari 90% dalam waktu 2 minggu sejak gejala serangan dijumpai. Sedangakan penyakit yang diakibatkan oleh SEMBV ditandai dengan timbulnya putih berukuran 0,5 – 2,0 mm pada bagian karapas hingga menjalar ke ujung ekor. Bercak putih yang timbul adalah sebagai akibat abnormal depasit garam kalsium oleh lapisan epidermis kutikular. Tanda serangan YHV di tambak kepala udang berwarna kekuningan.

Epizootiologi Infeksi

Tak kalah pentingnya adalah faktor transmisi dan reservoir infeksi. Penyebab penyakit udang dapat terjadi secara horizontal maupun vertikal. Secara horizontal terjadi melalui rantai makanan atau virion yang terbatas ke lingkungan dan masuk ke tubuh udang yang sehat. Secara vertikal terjadi dengan cara induk yang menjadi karier virus akan menularkan melalui kotoran yang setelah bebas di air akan menginfeksi larva. Infeksi pada umumnya terjadi melalui 3 rute utama yaitu kulit, insang, dan saluran pencernaan.

Diagnosis Virus

Saat ini telah dikembangkan berbagai metode diagnosis virus diantaranay metode konvensional seperti histipatologi, dasblot, hibridisasi, in situ dan PCR dan RT-PCR. Metode diagnosis dengan PCR mungkin merupakan salah satu metode yang paling cepat dan menjanjikan tingkat akurasi yang tinggi dibandingkan metode lain. Sampel dapat disiapkan dalam awetan alkohol 70% dalam potongan kecil (0,5 cm), untuk PCR dan penggunaan formalin 10% untuk pemeriksaan histopatologi.

Pengendalian Penyakit

Tidak ada jenis antibiotik dan kemoterapi lain yang dapat digunakan untuk pengobatan penyakit viral. Pencegahan lebih efektif untuk pengendalian penyakit viral. Tindakan pencegahan ini meliputi :
1. Penyediaan benih bebas virus
2. Pembersihan karien di lingkungan tambak merupakan alternatif yang paling berhasil untuk program pengendalian penyakit viral.
3. Aplikasi ilmunostimulan dapat merangsang sistem kekebalan non spesifik udang windu
4. Penjagaan kualitas lingkungan

Vaksinasi kurang bermanfaat sebab sistem respon imun pada udang yang masih sangat sederhana.

PENYAKIT BAKTERIAL

Ditingkat kerugian, serangan penyakit bakterial jarang sekali menimbulkan kematian secara massal pada udang di tambak. Tapi di pembenihan menjadi masalah serius seperti berjangkitnya penyakit larva nyala (Luminous disease)

Jenis Penyakit

Beberapa jenis penyakit bakterial yang dijumpai menyerang udang di tambak diantaranya adalah penyakit insang hitam, penyakit ekor geripis, kaki putus, bercak hitam, kulit dan otot hitam (black splincter disease).

Bakteri Vibrio Sp. Seperti Vibrio Alginolyticus, V. Parahaemolyticus, dan V. Anguillanum merupakan bakteri yang erat kaitannya dengan penyakit tersebut. Peningkatan virulensi patogen diperkuat dengan jeleknya manajemen kuaiiatas air, yang tidak jarang menimbuikan kematian udang. Secara umum Vibrio Sp termasuk patogen opportunis bagi udang windu.

Epizootiologi

Transmisi infeksi bakteri dapat terjadi baik secara vertikal dan horizontal, dengan rute infeksi melalui kulit, insang dan pencemaan makanan.

Tidak seperti halnya dengan virus, tidak ada reservoir spesitik bagi infeksi bakterial, ikan, udang, fitoplaknton, kotoran dapat menjadi media bagi patogen bakterial. Karenanya penyakit bakterial termasuk kelompok “water borne disease”, karena dapat dikatakan air merupakan resevoir bakteri.

Diagnosis Penyakit

Konfirmasi dapat dilakukan deogan cara pemeriksaan bagian jaringan otot, bagian yang menunjukkan luka, insang dan hemolimfe. Sampel kemudian dibiakkan pada permukaan media TCBS, dan apabila diperlukan dapat dilakukan identifikasi untuk menentukan jenis. Diperlukan sampel segar, dari udang yang masih hidup atau hampir mati (Maribund) untuk menghindari adanya kontaminasi. Sampel dapat dibawa dalam keadaan hidup atau disimpan dalam termos dengan es batu.

Pengendalian

Apabila sedang terjadi wabah (outbreak) pemakaian antibiotik dapat dilakukan dengan cara pencampuran ke dalam pakan. Sebelum diberikan sebaiknya dilakukan sensitivitas antibiotik sehingga diperoleh jenis dan dosis pengobatan yang tepat. Pemakaian vaksin tidak banyak menolong. Penggunaan vitamin C, imunostimulan selain vaksin dapat dilakukan.

PENYAKIT MIKOTIK

Penyakit ini relatif jarang dijumpai menimbulkan masalah pada budidaya udang windu di tambak. Jamur jenis Fusarium Sp. Merupakan jenis jamur yang ditemukan menginfestasi insang udang, mengakibatkan penyakit insang hitam. Dengan bantuan mikroskop, akan ditemukan makrokonidia jamur pada insang yang berwarna kehitaman.

Epizootologi penyakit meliputi transmisi penyakit seperti halnya penyakit bakterial, yaitu melalui air, sehingga termasuk kategori “water borne disease”. Faktor pemicu timbulnya penyakit juga tidak jelas, akan tetapi kondisi lingkungan yang jelek, air kaya bahan organik , menjadi pemicu munculnya penyakit ini. Reservoir jamur adalah air, dan bahan organik yang melimpah di lingkungan air tambak dapat menjadi media yang subur lagi berkembangnya jamur.

PENYAKIT FOULING

Dikenal sebagai Fouling disease karena mengakibatkan penampilan udang menjadi tidak menarik. Tubuh udang kelihatan seperti berlumut, dengan warna kecoklatan yang diakibatkan oleh penempelan protozoa jenis Varticella sp dan Zoothamnium sp. Protozoa ini juga sering menempel pada insang sehingga kelihatan berwama kecoklatan dan pada akhirnya akan mengakibatkan warna insang menjadi kehitaman, karena nekrosis.

Epizantiologi.

Seperti halnya dengan penyakit bakterial, protozoa termasuk ke dalam golongan patogen apportunis dan merupakan water borne disease. Hal ini karena protozoa juga merupakan organisme yang bersifat organisme heterotrofik yang mampu menggunakan bahan organik dari organisme yang telah mati. Transmisi protozoa karenanya terjadi secara horizontal.

Diagnosis Penyakit.

Konfirmasi penyakit dapat dilakukan dengan bantuan mikroskop dengan pembesaran rendah hingga 400 x. Dengan pemeriksaan ini akan terlihat baik Vorticella sp. Sebagai sel tunggal dilengkapi tangkai dan bergerak atau Zoothamnium sp. Sebagai koloni dengan percabangan dua-dua (bina). Masing-masing dengan tangkai yang dapat bergerak secara bersamaan. Gunakan tangkai seperti pegas disebabkan oleh adanya benang gerak diadakan tangkai.

Pengendalian Penyakit.

Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan cara pengelolaan kualitas air, dengan menghindari bahan organik berlebihan dalam air media pemeliharaan, merangsang udang moulting dan segera melakukan penggantian air secara kontinyu.

PENYAKIT NUTRITIF.

Penyakit Nutritif dapat terjadi meskipun prasensasinya relatif jarang terjadi. Pakan buatan yang terkontaminasi oleh aspeegillus flavus, dan penicellum sp dapat menjadi penyebab udang menderita keracunan. Faktor penyebabnya adalah pakan yang diberikan sudah masa kadaluwarsa, dan disimpan pada kondisi embab. Kekurangan vitamin C dapat juga terjadi.

Dari : Mina Diklat BPPP Belawan Medan

20
Mar
11

Peluang Agribisnis Perikanan

Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai, rawa, danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha merupakan potensi alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha perikanan di Indonesia. Disamping itu banyak potensi pendukung lainnya yang dilaksanakan oleh pemerintah dan swasta dalam hal permodalan, program penelitian dalam hal pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan pasca panen, penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan import. Walaupun permintaan di tingkal pasaran lokal akan ikan patin dan ikan air tawar lainnya selalu mengalami pasang surut, namun dilihat dari jumlah hasil penjualan secara rata-rata selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Apabila pasaran lokal ikan patin mengalami kelesuan, maka akan sangat berpengaruh terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat grosir di pasar ikan. Selain itu penjualan benih ikan patin boleh dikatakan hampir tak ada masalah, prospeknya cukup baik. Selain adanya potensi pendukung dan faktor permintaan komoditi perikanan untuk pasaran lokal, maka sektor perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang cerah.

16
Mar
11

Budidaya Ikan Baung

Pemeliharaan Induk

Pemeliharaan induk dilakukan di kolam induk yang berukuran 600 m2 dengan kedalaman air rata-rata 1 m dengan padat tebar 15 ekor /m2. Selama pemeliharaan induk diberikan pakan berprotein minimal 28% sebanyak 2% dari total Biomass/hari dengan frekuensi pemberian pakan dua kali sehari yaitu pada pagi hari dan sore hari.

Seleksi Induk

Pengecekan tingkat kematangan gonad induk betina yang siap pijah dapat dicirikan perut yang membesar dan lembek bentuk badan yang agak melebar dan pendek. Pada sekitar lubang genital agak kemerahan dan telur berwarna kecoklatan. Ukuran diameter telur ikan baung yang siap dipijahkan dan mampu berkembang dengan baik berkisar 1,5 sampai 1,8 mm dengan rata-rata 1,6 mm. Telur yang bagus dapat dilihat intinya sudah menepi dan tidak terjadi penggumpalan jika diberi larutan sera.

Sedangkan untuk induk jantan yang siap dicirikan dengan ujung genital papilla (penis) berwarna merah yang panjangnya sampai ke pangkal sirip anal. Cairan sperma ikan baung ini berwarna bening.

Pemijahan dilakukan secara buatan dengan penyuntikan hormon. Jenis hormon yang digunakan adalah ovaprim denga dosis 0,5 cc/kg induk betina dan 0,3 cc/kg untuk induk jantan.

Induk ditampung dalam wadah fiber/waskom/aquarium yang berfungsi sebagai tempat inkubasi induk. Induk ditimbang beratnya untuk menentukan jumlah hormon yang akan digunakan. Penyuntikan induk betina dilakukan 2 kali dengan interval waktu penyuntikan 6 jam, untuk penyuntikan I digunakan 1/3 dari dosis dan 2/3 sisanya untuk penyuntikan ke II. Sedangkan untuk induk jantan dilakukan sekali penyuntikan yaitu waktu penyuntikan kedua pada induk betina. Penyuntikan dilaksanakan secara intra muskular di bagian kiri/kanan belakang sirip punggung. Posisi jarum suntik terhadap tubuh induk membentuk sudut 30o – 40o sejajar dengan panjang tubuh.

Waktu ovulasi berkisar antara 6 – 8 jam setelah penyuntikan ke II (kisaran suhu 29o – 31o ditandai dengan keluarnya telur bila dilakukan pengurutan pada bagian perut.

Pembuahan

Pengambilan sperma dilakukan dengan pengurutan ke arah lubang genital dan dengan spuit yang sudah diisi dengan larutan NaCl 0,9% dengan perbandingan 4 cc NaCl dengan 1 cc sperma. Pembuahan buatan dilakukan dengan cara mencampurkan telur dengan sperma kemudian diaduk dengan bulu ayam searah jarum jam selama kurang lebih 2 – 3 menit secara perlahan sampai tercampur rata, lalu diberi air bersih. Selanjutnya telur ditetaskan di dalam aquarium.

Penetasan Telur

Penetasan dilakukan pada substrat buatan yang diletakkan menggantung di aquarium. Hal ini dikarenakan telur ikan baung memiliki daya rekat yang tinggi sehingga telur tersebut menempel kuat pada substrat. Setelah telur menetas larva akan jatuh ke dasar aquarium dan larva baung bersifat bergerombol dan lebih suka berada di dasar aquarium. Sedangkan telur yang tak menetas tetap menempel pada substrat.

Pemeliharaan Larva

Panen larva dilakukan setelah larva berumur 6 – 8 jam setelah menetas dengan cara disifon dengan selang plastik dan ditampung dalam waskom atau dengan menggunakan serok halus dan dihitung kepadatannya. Selanjutnya baru dilakukan penebaran di media pemeliharaan larva. Padat penebaran yang digunakan dalam pemeliharaan larva ikan baung ini 20 ekor/liter.

Larva yang baru menetas berukuran 0,5 cm dengan berat 0,7 mg. Selama pemeliharaan larva, pakan yang diberikan adalah nauplii Artemia sp dan cacing rambut diberikan setelah larva berumur 8 hari. Frekuensi pemberian pakan dilakukan 5 kali per hari yaitu pada pukul 07.00, 11.00, 15.00, 19.00, dan 23.00 WIB. Agar kualitas air tetap baik dilakukan penyifonan kotoran yang mengendap di dasar aquarium. Penyifonan dilakukan 1 x per hari pada pagi hari sebelum pemberian pakan.

Pendederan

Sebelum dilakukan penebaran benih, terlebih dahulu dilakukan persiapan kolam pendederan yang meliputi pengeringan kolam, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar kolam dan pembuatan caren (kemalir). Dalam kegiatan persiapan kolam juga dilakukan pemupukan, pengapuran, pengisian air dan inokulasi moina sp. dengan kepadatan 10 juta individu/500 m2

Pengolahan dasar kolam dilakukan dengan cara pembalikan tanah dasar kolam, diratakan dengan pembuatan kemalir dengan kemiringan 0,5 – 1% ke arah pintu pengeluaran. Setelah pengolahan tanah, dilakukan pemupukan dengan pupuk kandang (kotoran ayam petelur) dengan dosis 60 gr/m2. Penjemuran kolam dilakukan selama 3 hari lalu diisi air secara bertahap sampai ketinggian air 90 cm.

Inokulasi Moina sp dilakukan sehari setelah pengisian air. Kolam didiamkan selama 3 – 4 hari agar ekosistem kolam dapat mencapai keseimbangan dan Moina sp berkembang biak. Sebelum benih ditebar di kolam dilakukan pengukuran kualitas air yang meliputi suhu, oksigen dan pH.

Penebaran banih dilakukan pada hari ke-8 dari awal persiapan kolam (3 hari setelah penebaran Moina sp). Penebaran benih dilakukan pagi atau sore hari untuk menghindari stress. Benih yang ditebar berukuran rata-rata 2,4 cm dengan padat tebar 20 ekor/m2 Pemeliharaan benih dilakukan selama 4 minggu. Setelah penebaran, benih diberi makan berupa pakan komersial (pellet) yang dihancurkan dengan kadar protein 28 – 30% sebanyak 25 – 100% total biomassa/hari. Total pemberian pakan tersebut adalah sebagai berikut :

* Minggu I : 100%,
* Minggu II : 80%
* Minggu III : 70%
* Minggu IV : 30%

Frekuensi pemberian pakan 3 x sehari pagi, siang dan sore .

Pemanenan

Pemanenan dilakukan dengan menjaring ikan dalam kolam menggunakan jaring, selanjutnya ditampung dalam hapa penampungan dan diberok selama 1 hari. Sebelum dilakukan pendistribusian benih pada pembudidaya ikan, benih terlebih dulu diseleksi sesuai ukuran.

Benih dikemas dalam kantong plastik ukuran 60 x 90 cm. Kepadatan per kantong tergantung pada ukuran benih dan waktu tempuh.

* BBAT Jambi

15
Mar
11

Budiaya Ikan Jelawat

Ikan Jelawat (Leptobarbus hoeveni) adalah ikan asli Indonesia terdapat dibeberapa sungai di Sumatra dan Kalimantan. Meskipun pemeliharaan ikan jelawat sudah lama dilakukan namun pasokan benih sepenuhnya masih mengandalkan hasil penangkapan dari perairan umum yang dilakukan pada musim hujan. Melihat aspek kebutuhan benih yang masih mengandalkan alam maka penguasaan teknologi pembenihan jenis ikan ini merupakan upaya yang pelu diaktifkan.

Ikan jelawat tidak setenar ikan mas dan nila. Ini wajar, karena ikan ini tidak ditemukan di setiap daerah, atau hanya di daerah asalnya, yaitu Sumatra, terutama Jambi dan daerah sekitarnya, serta Kalimantan. Budidaya ikan jelawat perlu dikembangkan. Karena ikan yang bernama latin Leptobarbus hoevenii ini juga tetap dicari orang, terutama orang-orang yang pernah merasakan dagingnya.

Namun, ikan jelawat sangat popuker di Malaysia sebagai ikan hias. Sementara ikan yang sudah besar digunakan sebagai ikan konsumsi. Ikan ini bersifat omnivore yang cenderung herbivore. Untuk budidaya ikan jelawat, pakannya dapat berupa pelet dan sedikit sayuran seperti selada air atau bayam.

Sekilas tentang budidaya ikan jelawat:

Penyuntikan pada induk betina dilakukan dua kali, yaitu 0,3 ml/kg dan 0,6 ml/kg dengan interval waktu sekitar 7 jam. Telur yang dihasilkan cukup banyak, dapat mencapai 100.000 butir untuk setiap induk seberat 1,5 kg. Aduk merata telur dan sperma dengan menggunakan bulu ayam atau kuas halus. Agar semua telur dapat terbuahi dengan sperma, sebaiknya perbandingan jantan dan betina 3 : 2. Selanjutnya, cuci telur tersebut dengan air bersih. Telur yang sudah bersih siap untuk ditetaskan.

Penetasan telur dilakukan dalam wadah penetasan berbentuk yang corong dibuat dari kain atau bahan halus. Wadah ini diletakkan dalam bak penetasan. Air akan dialirkan dari tetas corong selama telur ditetaskan. Telur yang mengumpul sulit atau tidak akan menetas. Penggantian air dapat dilakukan dengan cara penyifonan secara hati-hati. jumlah air yang diganti cukup setengahnya saja. Pembesaran jelawat dapat dilakukan dalam kolam setelah berumur 30 hari.

Metode dan Cara Pembenihan Ikan Jelawat :

Pematangan Gonad

  • Induk dipelihara dalam kolam khusus berukuran 500-700 m2 penebaran 0,1-0,25 kg/m2
  • Selama pemeliharaan, induk ikan dibi pakan pelet dengan kandungan protein 25-28%
  • Pakan diberikan sebanyak 3 % dari berat badan dengan frekwensi 2-3 per hari
  • Selain pelet diberikan juga pakan berupa hijauan seperti daun singkong secukupnya
  • Lama pemeliharaan induk lebih kurang 8 bulan
  • Induk yang siap pijah diperoleh dengan cara seleksi

Pemijahan

Pemijahan jelawat dapat dilakukan scara alami dan buatan. Dalam paket teknologi ini dilakukan pemijahan buatan.

  • Induk terseleksi perlu diberok selama satu hari
  • Penyuntikan hormon HCG dan kelenjar hipofisa terhadap induk betina dilakukan 2 kali
  • Penyuntikan I (PI) : 1 dosis kelenjar hipofisa ditambah 200 IU HCG per induk betina
  • Penyuntikan II (PII) : 2 dosis kelenjar hipofisa ditambah 300 IU per induk betina
  • Selang waktu antara PI dan PII, 5-6 jam
  • Ovulasi terjadi antara 10-1 jam dari PI
  • Telur dan sperma dikeluarkan dengan cara diurut
  • Pembuahan telur dilakukan dengan mencampurkan sperma dan telur di baskom plastik
  • Jika telur telah mengembang siap untuk disimpan dalam wadah penetasan

Penetasan

  • Padat tebar 400-500 butir telur per liter
  • Selama penetasan air harus dijaga kialitasnya (O2 4-8 ppm; pH 7,0-8,0; T:25-28 derajat C)
  • Pada suhu air 25-28 derajat C telur akan menetas 18-4 jam setekah pembuahan

Pemeliharaan Larva

  • Larva dipelihara langsung ditempat penetasan telur
  • Cangkang dan telur yang tidak menetas dibersihkan secara penyiponan
  • Hari ke 3 larva diberikan pakan Naupil Artemia (yang baru menetas) secukupnya
  • Pemberian pakan 3 kali sehari (pagi, siang ,sore)
  • Hari ke 7 setelah menetas benih ikan siap untuk didederkan di kolam

Pendederan

  • Persiapan kolam meliputi pengeringan 2-3 hari, perbaikan pematang, pembuatan saluran tengah (kamalir) dan pemupukan dengan pupuk kandung sebanyak 500-700 gr per m2. Kolam diisi air sampai ketinggian 80-100 cm. Pada saluran pemasukan dipasang saringan berupa hapa halus untuk menghindari masuknya ikan liar
  • Benih ditebarkan 3 hari setelah pengisian air kolam dengan padat penebaran 100-150 ekor/m2
  • Benih ikan diberi pakan berupa tepung hancuran pelet dengan dosis 10-20 % per hari yang mengandung lebih kurang 25% protein
  • Lama pemeliharaan 2-3 minggu
  • Benih yang dihasilkan ukuran 2-3 cm dan siap untuk pendederan lanjutan






free counters

KALENDER GUE

April 2014
S S R K J S M
« Feb    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

FaceBook Gue Nich

Blog Stats

  • 35,965 hits

Top Clicks

  • Tidak ada

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.